Rahasia Arief Wismoyono Jadi Asia Trail Master
Foto, (Dok. Pribadi)

Dengan latihan dan persiapan yang matang, seorang atlet dapat melakukan yang terbaik saat bertanding. Itulah yang diyakini oleh Arief Wismoyono, pelari trail dari Indonesia. Ya, pria asal Bandung ini mengaku keberhasilannya jadi juara berbagai lomba trail berasal dari latihan dan persiapan yang serius.

Bukan sekedar menguatkan mental laiknya baja. Menurutnya, lomba yang menuntut fisik kuat –seperti lari trail – harus diimbangi fisik yang kuat pula. Dan terbukti, dengan langkah yang pasti, ia mampu menyabet juara Asia Trial Master pada tahun 2015. Berikut wawancaranya bersama Fitness for Men di bawah ini.

 

Kenapa akhirnya memilih olahraga trial running?

Awalnya, saya memang penyuka olahraga. Kemudian, ada seorang teman yang mengajak saya berlari trail. Dulu, saat lagi naik ke Gunung Jaya Giri, lanjut ke Tangkuban Perahu. Saat itu, saya mulai berkenalan dengan beberapa pelari trail lain dan makin kenal olahraga ini.
Setelah itu, saya pun mencoba ikut mereka latihan dan akhirnya memberanikan diri mengikuti lomba untuk pertama kali pada 2014. Lomba trail pertama saya itu harus menempuh rute sepanjang 12 kilometer di dusun Bambu, Lembang. Tak berhenti di situ, saya juga ikut lomba trail 30 km di Sentul- Bogor. Walau sebagai “anak baru”, saya bisa finish dengan perolehan waktu yang bagus di dua perlombaan itu. Seiring berjalannya waktu, teman penyuka olahraga trail makin banyak sehingga kita pun latihan bareng di Gazibu setiap sore.

Dari komunitas inilah motivasi saya akan olahraga lari trail terpupuk. Akhirnya, saya mencoba ikut lomba lari ultra-trail di Gunung Merbabu, Magelang. Waktu itu, sebenarnya nggak ada target untuk jadi juara. Saya sekedar ingin merasakan sensasinya saja. Sebelumnya, saya memang pernah berlari dari Bandung ke Jakarta dalam memperingati hari kemerdekaan RI sehingga saya berpikir jika saya bisa. Tak disangka-sangka, di lomba itu, ternyata saya menang.

 

Bagaimana perasaan Anda saat itu?

Yang jelas saat itu saya senang banget! Waktu perlombaan itu, yang diunggulkan adalah Thomas Zachary, pelari trail asal Amerika Serikat yang memenangkan lomba di Gunung Rinjani. Saya bisa menyalipnya. Di olahraga ini, segala kemungkinan bisa terjadi. Di Gunung Merbabu, pelari elit Belgia yang sudah jadi langganan juara, saya juga salip karena dia sempat nyasar.

Di olahraga ini, selain stamina, tantangan lain yang berpotensi menggagalkan adalah nyasar. Saat pelari salah marking dan kemudian salah belok, bakal jauh nyasarnya. Dia akan kehilangan banyak waktu untuk balik lagi di trek awal.

 

Memangnya, tidak ada tanda-tanda pengarah jalan?

Memang ada, tapi kan jarak lomba itu 65 kilometer. Nggak mungkin setiap 100 meter ada tanda. Kalau di lomba lari trail, khususnya ultra, penunjuk jalan itu sedikit. Jadi, mau tidak mau, ketelitian kita yang kita tingkatin. Saya sendiri juga pernah nyasar kok.

 

Seru banget! Apa pengalaman paling berkesan Anda?

Pengalaman paling berkesan saya ada dua. Pertama, saat berlari di Gunung Ijen. Kenapa? Karena saya berhasil mengalahkan banyak atlet di sana. Kedua, saat berlomba di Gunung Rinjani, sebab saya orang pertama dari Indonesia yang berhasil menjadi juara di ajang itu. Sebelumnya, pemenangnya adalah mantan atlet olimpiade.

Belum lagi saat perjuangan lari di sana. Rintangan yang saya dapati lumayan berat. Waktu itu, kami berlari malam hari dan headlamp atau senter kepala saya mati. Itu bisa terjadi karena udara dingin membuat baterai lebih cepat habis. Karena kejadian itu, waktu saya banyak terbuang. Saya beruntung, menemukan tenda pendaki dan pinjam headlamp mereka. Akhirnya, saya bisa menang di sana. Kalau nggak dapat senter, sulit bagi saya untuk memenanginya dan mungkin tidak bisa menjadi juara Asia Trail Master tahun 2015 kemarin

 

Apa itu Asia Trail Master?

Asia Trial Master adalah lomba lari trail yang penilaiannya berdasarkan sistem poin layaknya liga. Lombanya ada setiap negara di Asia, seperti di Nepal, Korea, Jepang, Cina, Hongkong, dan Indonesia. Dari lomba yang kita ikuti itu, nanti bakal dipilih tiga lomba dengan nilai tertinggi. Misalnya, saya mengikuti lima lomba, maka panitia akan memilih tiga perlombaan yang mempunyai poin terbesar.

Kenapa begitu sistemnya? Pertama, dalam trail run, banyak faktor lain yang menentukan hasil lomba, seperti rute, kondisi alam, atau peralatan. Kedua, proses recovery lomba lari ini termasuk lama, nggak bisa sebulan. Semua itu kita harus program dulu. Karenanya, penilaian didasarkan pada best performance seorang atlet dalam lima perlombaan tersebut.

 

Apa rahasia kesuksesan Anda?

Sebenarnya, tidak rahasia di balik semua itu. Itu semua karena saya mempersiapkan latihan saya dengan serius. Saya biasanya lari di naik turun lantai gedung selama empat jam agar fisik dan stamina terbiasa dengan medan yang sesungguhnya. Saya selalu melakukan mempersiapkan dengan matang. Persiapan ialah segala-galanya. Tanpa persiapan, banyak hal yang bisa terjadi, seperti ada yang muntah-muntah saat di garis finish, ada yang pingsan, dan ada yang kena hipertermia.

Kemudian, saya juga berprinsip, segala sesuatu yang sudah dimulai, harus diselesaikan. Di lari trail ini, banyak rintangan tak terduga yang harus dihadapi. Salah satunya adalah nyasar. Banyak atlet yang kalau sudah nyasar dan tidak punya peluang juara lagi, mereka milih mundur dari perlombaan. Itu tidak saya lakukan. Saya senang olahraga lari sehingga saya tidak hanya ingin meraih juara. Karenanya, saya bertekad untuk menyelesaikan setiap perlombaan yang saya ikuti, walaupun tak ada peluang untuk menang.

 

Adakah target yang ingin dikejar?

Saya ingin mempertahankan gelar Asia Trail Master saya. Mei 2016 kemarin, saya berhasil jadi juara lagi di Gunung Rinjani. Selanjutnya, saya ingin mencoba lari trail di kejuaraan Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB). Itu adalah ultra trail running race paling bergengsi dan terkeras di dunia. Itu adalah “kiblat” bagi para pelari trail dunia. Saya sudah mendaftar dan semoga bisa finish dengan hasil bagus.

 

Good luck, Bro!

loading...
loading...