Medali Olimpiade Eko Yuli Irawan
Foto: Dok. pribadi

Lahir di keluarga kurang mampu, Eko – biasanya disapa – menjalani masa kecilnya sebagai penggembala kambing. Pagi dan sore, ia harus menggembalakan empat kambing, aset keluarganya. Sama sekali tak terbersit untuknya jadi atlet Tapi, keisengan menonton orang yang sedang berlatih angkat barbel ternyata jadi pengubah takdirnya. "Waktu itu, awalnya hanya melihat mereka latihan, bahkan sampai diusir. Tapi, saya justru tertantang untuk melihat lebih dekat. Akhirnya, oleh pelatih di tempat itu, saya ditawari untuk ikut berlatih," kenang Eko terharu.

Dari sanalah pria kelahiran 24 Juli 1989 ini mengenal dunia angkat besi. Berbekal izin ayahnya, Eko memulai latihannya dengan bersemangat. Saat itu, ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Setelah berlatih selama lima tahun, ia pun memulai debut bertandingnya. Tanpa disangka, Eko bisa mendapat juara satu nasional.

Sejak itu, Eko yang mulai beranjak remaja kian bersemangat untuk berprestasi. Pada 2006, ia berhasil menyabet medali perak di kejuaraan dunia yunior. Merasa tak puas, di tahun selanjutnya, Eko berhasil mempecundangi lawannya dengan meraih total angkatan 273 kilogram dan berhak berdiri di podium pertama. “Saat itu, saya juga terpilih sebagai lifter terbaik pada ajang tersebut,” jelas Eko.

Tahun 2007 benar-benar menjadi tahun miliknya. Tak hanya medali kejuaraan dunia yunior yang berhasil ia dapat, medali emas Sea Games di Thailand pun digondolnya. Sejak itu, makin seriuslah dia menekuni dunia angkat besi. “Kalau dulu kan masih anak kecil, jadi hanya latihan. Tapi, begitu memenangi banyak ajang, khususnya Seagames, sudah saatnya untuk menjalani karier dan jadi yang terbaik di cabang atlet ini,” ujarnya.

Kini, sudah hampir 10 tahun Eko jadi atlet. Sudah banyak prestasi bergengsi yang ia dapat. Sebut saja medali emas SEA games sebanyak empat kali, medali emas PON XVII di Kalimantan Timur di 2008, dan dua kali medali perunggu Olimpiade. Dari semua medali yang didapat, yang paling berkesan ialah saat meraih medali perunggu di Olimpiade London tahun 2008. Pasalnya, ia bisa mengalahakan banyak lifter dari puluhan negara.

“Selain itu, karena kemenangan di Olimpiade cukup diakui dan paling dihargai semua orang. Seperti yang diketahui, olahraga angkat besi merupakan olahraga yang kurang populer - dibandingkan bulutangkis. Padahal, raihan medali Olimpiade di 2012 di London hanya dari cabang angkat besi yang menyumbang medali,” papar Eko.

loading...
loading...