Latih Mental dengan Panahan, Yuk
(Foto: Dok. FFM)

Pada trial lalu, saya mencoba Sveda Yoga Glow in The Dark yang amat menempa fleksibilitas tubuh. Kali ini, saya dan rekan dari FFM, Jordhi Farhansyah, mengajak Anda untuk merasakan serunya olahraga panahan yang selain menempa otot tubuh, juga melatih mental, terutama konsentrasi. Untuk itu, Indonesia Archery School Program di kawasan Beji, Depok, kami sambangi, setelah sebelumnya membuat janjian dahulu dengan ketuanya, Defrizal Siregar. Kami sendiri datang hanya membawa badan saja seperti yang disarankannya. Kata Frizal – begitu ia biasa disapa, semua peralatan sudah tersedia disana.

Begitu sampai, kami disuguhi pemandangan sekelompok anak muda yang sedang berlatih panahan. Tak pelak, kami harus menunggu giliran. Tapi, sebelum kami dibolehkan menggeratak alat panahnya, Frizal mengenalkan alat dan mengajari kami teknik memanah yang benar. “Pertama kita atur posisi dulu. Posisi kaki harus selebar bahu, berdiri menyamping di antara garis batas. Badan harus tegap lurus dengan target. Kemudian, tangan kiri megang pegangan (grip) yang ada di reser (inti kerangka busur). Setelah itu, baru masukkan anak panah,” ucap Frizal.

“Selanjutnya, pegang tarikan dengan tiga jari di bawah anak panah dan angkat busur ke atas. Jika sudah siap “menembak”, lanjutkan full draw, yaitu posisi tarikan maksimal dari tiga jari dengan anah panah diarahkan ke papan target. Ingat, posisi tangan pada tarikan harus berada di bawah dagu. Dan, lepaskan anak panah tak lebih dari empat detik,” tambahnya sambil memperagakan.

 

Tak semudah “membidik” cewek

Melihat peragaan Frizal itu, saya hanya tersenyum tipis. “Ah, gampang,” batin saya. Tapi, begitu mencobanya, ternyata tak semudah yang saya kira. Begitu saya menarik anak panah ke belakang, tangan kiri saya bergetar. Goyah. Rupanya agar membidik dengan stabil, saya harus mengerahkan tenaga dan berfokus pada grip. Saya pun merasakan kontraksi pada otot punggung atas dan otot bisep saya. Sialnya, karena teknik saya belum sempurna, tali string pelontar anak panah menyerempet lengan bagian dalam saat dilepaskan. Aduh! Sakitnya bukan main! Seketika langsung memerah. Ternyata, memanah tak semudah “membidik” hati wanita idaman, Bung.

“Itu karena posisi kamu tidak tegap, dan lengan tidak lurus. Jadi string mengenai lengan,” koreksi Frizal. Begitu saya mengikuti anjurannya, strip busur tak lagi mengenai lengan. Begitu anak panah saya lepas, dalam sepersekian detik, menancap mantap dalam lingkaran warna biru. Saya pun melirik ke rekan saya. Dia tampak belum terbiasa pula. Tembakan-nya keluar target, padahal jaraknya hanya lima meter.

Bak Arjuna, saya pun mencoba lagi dan kali ini, anak panah berhasil menancap titik tengah target. Wow! Sepertinya saya sudah mulai terbiasa dengan olahraga ini, batin saya. Tanpa terasa dada saya pun sedikit membusung, seakan merasa bagaikan Robin Hood.

 

Filosofi panahan

Kondisi yang saya alami sedikit berbeda dengan Jordhi. Tampaknya, dia masih harus berlatih banyak. Anak panah kedua yang ia lepaskan tetap keluar dari lingkaran target, atau hanya bersarang di warna putih. Tampak wajahnya makin tegang karena penasaran. Melihat roman Jordhi itu, Frizal langsung memberi saran, “Jangan pernah ngotot di olahraga ini. Semakin emosional, semakin kita tidak bisa berkonsentrasi. Tenangkan diri, aturlah napas. Olahraga ini tak hanya membutuhkan fisik, tapi juga mentalitas dan kemampuan analisa,” saran Frizal.

Analisis, lanjut dia, dibutuhkan untuk mendapat hasil lebih baik dengan menandai target saat melepaskan “tembakan”. Sementara itu, mentalitas dibutuhkan untuk mengambil keputusan begitu sudah menemukan arah tembakan. Jadi bisa juga dibilang, panahan itu olahraga pertarungan dengan nafsu dalam diri sendiri.

“Pernah ada orang yang begitu sudah menarik anak panah, tapi dia tak berani melepaskannya. Mengapa bisa? Karena dia tidak berani memutuskan karena tidak mempunyai keyakinan. Memanah itu tak ubahnya seperti hidup. Dalam hidup, kita pasti punya target yang ingin dicapai dengan melihat berbagai peluang. Saat sudah mendapatkan peluang itu, target kita “kunci” dan kemudian eksekusi,” terang Frizal berfilosofi. Setelah mendengar penjelasan itu, Jordhi mulai santai. Hasilnya, anak panahnya tak keluar lingkaran lagi, bahkan masuk ke tengah: lingkaran kuning. Mantap!

Setelah beberapa percobaan itu, kami berdua pun semakin terbiasa sehingga makin banyak anak panah yang kami lepas. Tak terasa, muncul aroma persaingan antara saya dan Jordhi. Mengendus hal itu, Frizal pun menantang kami dengan memundurkan jarak papan target menjadi delapan meter. Makin menarik! Tentu, makin menarik jika di papan target dipasang foto hati Maria Selena. Pastilah kami semakin bersemangat membidiknya.

 

Bakar kalori 500 Kalori

Setelah berpuluh anak berterbangan dari busur kami berdua. Intensitasnya mulai berkurang saat saya dan Jordhi mulai merasa kecapekan di set terakhir latihan. Saat menarik string, tangan mulai terasa bergetar. Rasa pegal mulai menjalar dari ujung jari hingga ke pangkal bahu. Karena kondisi itu, di tembakan terakhir, tangan bergetar hebat hingga saya tidak bisa stabil membidik target. Alhasil, tembakan saya hanya bersarang ke lingkaran putih, penutup yang buruk, meski dua tembakan awal saya mengenai lingkaran merah dan putih.

Melihat kondisi itu, Frizal berkata, “Inilah nikmatnya panahan. Satu sesi latihan ini, sekitar satu setengah jam, bisa membakar kalori sebanyak 500 kkal. Itu jumlah yang banyak dan sudah mampu membuat Anda berkeringat serta melatih otot Anda. Jika dilakukan secara teratur, olahraga ini akan melatih postur tubuh menjadi lebih tegap.”

Tapi, tak hanya menyoal kalori. Panahan mempunyai banyak manfaat lain yang berguna, termasuk buat latihan mental. “Sebenarnya, teknik memanah itu sendiri hanya sarana. Tetapi, yang tak kalah penting ialah makna di baliknya. Melalui panahan, kita bisa melatih karakter, seperti berani menaklukkan tantangan dan berkeputusan,” ucap Frizal.

“Orang yang ingin melatih kemampuan konsentrasi, menggali jati diri, atau melatih agar mengatasi segala ketakutan bisa bermula di sini,” tambahnya.

Sangat setuju! Untuk bisa menancapkan anak panah ke lingkaran kuning, kita harus “berdamai” dengan diri sendiri dulu – agar tenang. Jika kita sudah tenang, tubuh mampu memfokuskan target dan dengan rasa percaya diri mengunci target. Akhirnya, kita berani mengambil keputusan untuk melepas anak panah. Memang, olahraga panahan tetaplah terlihat mudah. Tapi, kami sendiri membuktikan bahwa olahraga ini tak sesederhana perkiraan kita. Nggak percaya? Silahkan coba saja sendiri.

loading...
loading...