Berlari Berlebihan, Bahayakah?
(Foto :ttarit S/shutterstock/clickphotos

Berlari memang olahraga paling mudah dan murah. Tak perlu banyak biaya dan persiapan, tinggal ayunkan langkah kaki secara cepat. Anda juga bisa melakukannya dengan banyak teman agar lebih menyenangkan. Apalagi lagi saat ini olahraga lari sedang tren. Tapi jangan asal ikut tren, apalagi sampai ketagihan (baca: berlebihan). Bila Anda terlalu sering berlari dan tidak mempedulikan batas kemampuan, tubuh Anda akan kelelahan dan mengalami apa yang dikenal sebagai overrunning.

Cara mudah untuk mendeteksi apakah Anda overrunning atau tidak adalah dengan merasakan kondisi tubuh. Jika keesokan hari setelah berlari, Anda merasa segar, berarti latihan lari Anda sudah tepat. Sebaliknya, jika tubuh Anda justru loyo, tubuh Anda berarti terlalu terforsir.

Agar aman, sebaiknya kita melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum memulai olahraga. Jika tak ada dokter ahli olahraga, Anda harus membuat daftar cek sendiri untuk menilai kondisi tubuh. Mulailah dengan berlari dalam durasi pendek, yaitu setengah jam. Jika dalam durasi itu, Anda tidak kepayahan, maka tambah sedikit porsinya. Jangan sampai olahraga membuat tubuh kepayahan karena justru akan membebani kerja jantung.


Menurut standar kesehatan, normalnya orang berlari hanya butuh waktu 30 sampai 60 menit per hari, dengan frekuensi 3-5 seminggu. Ada cara lain menghitung kebutuhan seseorang berlari, yakni, menghitung 60 atau 80 persen dari denyut jantung maksimal. Cara mengetahui denyut jantung masimal itu, adalah angka 220 dikurangi usia. Artinya, untuk orang berusia 20 tahun, ia harus lari 120 sampai 160 denyut per menit. Jika lebih dari itu, kesehatan tubuh menjadi taruhannya. Salah satunya adalah gangguan pola makan.

Bagi Anda penghobi lari, jangan lupakan pentingnya asupan nutrisi saat Anda melakukan olahraga tersebut. Kesalahan yang banyak terjadi adalah banyak pelari yang mengurangi asupan nutrisinya, dengan anggapan dietnya akan lebih cepat berhasil. Anggapan itu salah. Untuk berlari, tubuh membutuhkan bahan bakar dari makanan. Jika itu tak tercukupi, artinya ada gangguan pola makan yang diderita.

Kurangnya asupan nutrisi juga menyebabkan gangguan pada tulang. Para pelari lebih mudah kekurangan kalsium dibanding orang biasa. Pasalnya, mereka berkeringat lebih banyak. Buang air pun lebih sering. Lewat keringat dan urine itulah kalsium dikeluarkan. Jika suplemen kalsium tak dicukupi, tubuh akan otomatis mengambil dari tulang. Inilah yang menyebabkan para pelari awam lebih rentan terkena gangguan tulang. Salah satu ciri fisiknya, ibu jari yang cenderung melengkung ke jari tengah. Itu karena ototnya melemah, kaku, atau kejang. Untuk kasus itu, praktisi medis biasanya memberi suntikan kalsium.

 

Kontributor: dr. Michael Triangto, Sp.KO, spesialis kedokteran olahraga dari Slim and Health Sport Therapy, Mall Taman Anggrek, Jakarta.

 

loading...
loading...